tidak bisa kembali

Oleh : Toni Yoyo

Tersebutlah seorang tua yang sudah di ujung usianya dan sedang menunggu datangnya maut menjemput. Dia teringat kembali sewaktu masih anak-anak. Saat itu dia ingin bisa mengubah dan mengatur dunia. ”Alangkah enaknya jika segala sesuatu dalam dunia ada dalam genggamanku, jika semua orang menuruti perintahku, kekuasaanku berlaku di seantero dunia, dan apapun yang kuinginkan dapat kuperoleh”, demikian dia berpikir.

Begitu menginjak remaja, dia berpikir ulang bahwa ternyata mengatur dunia itu sangat sulit karena begitu banyak negara, begitu luas dan begitu beraneka ragam penduduknya. ”Ah …. jauh lebih mudah mengatur satu negara saja”, gumannya. ”Jika semua orang dalam negaraku melayani dan menuruti apa yang kumaui dan aku memiliki kekuasaan mutlak dalam negara, cukuplah bagiku”, demikian pikirannya di usia remaja ini.

Tetapi dengan bertambah usianya menjadi dewasa, dia menyadari bahwa mengatur dan memiliki kekuasaan dalam satu negara juga tidak mudah. Banyak kompleksitas yang harus dihadapi. Berbagai suku dan agama, masalah ekonomi, politik, keamanan dan lain-lainnya akan menuntut banyak perhatian darinya. Akan melelahkan segala sesuatu bagi dirinya.

”Wah … kalo demikian, cukuplah bagiku mengatur lingkungan masyarakat saja. Dengan terpandang dan menjadi pemimpin masyarakat atau lingkungan, aku masih akan didengarkan oleh cukup banyak orang”, demikian pemikiran yang bermain dalam dirinya.

Namun demikian begitu menjadi tua seiring dengan bertambahnya usia, dia kembali merasa bahwa lingkup satu lingkungan masyarakatpun terdiri dari banyak rumah dan keluarga sehingga cukup ruwet untuk mengatur dan mengubahnya. ”Masing-masing orang punya pemikiran dan keinginan sendiri. Bukan masalah mudah untuk mengatur mereka. Apalagi memaksakan keinginanku agar diikuti oleh mereka”, pikiran ini menggelayut dalam dirinya.

Oleh karena itu kemudian dia berpikir bahwa keluarganyalah yang seharusnya mematuhi apa yang dikatakan dan diinginkannya. Keluarga memiliki kaitan langsung dengan dirinya sehingga dia mempunyai kekuasaan (power) untuk membuat pasangan dan anggota keluarga mematuhinya. ”Keluargaku harus mendengarkanku. Mereka harus mengikuti perkataan dan permintaanku”, demikian yang muncul dalam pikirannya.

Tetapi sekarang dimana dia sudah sangat tua dan di ujung kehidupannya, dia seakan tersadar bahwa jikalau dari dulu, semenjak masih anak-anak, bukannya mengatur dan mengharapkan orang lain yang berubah, tetapi dialah yang mulai mengatur dan merubah dirinya sendiri, dengan cara mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal tidak baik sebanyak mungkin, maka tidak akan ada penyesalan di usia senjanya.

Apalagi jika praktek kebaikan dan penghindaran ketidakbaikan ini dapat berlanjut sewaktu dia remaja, dewasa, dan tua, tidak tertutup kemungkinan contoh ini dapat menular kepada lingkungannya dalam lingkaran yang makin besar dari waktu ke waktu. Sangat mungkin keluarganya akan berubah menjadi lebih baik melihat contoh dari dirinya. Kemudian keluarga-keluarga lain menjadi lebih baik sehingga lingkungan masyarakatnya menjadi lebih baik. Selanjutnya jika banyak lingkungan masyarakat menjadi lebih baik maka negara menjadi lebih baik. Dan pada akhirnya bukan hal yang mustahil jika banyak negara kemudian tumbuh menjadi lebih baik, dan duniapun dapat menjadi lebih baik.

Kita memang tak bisa kembali dan memutar waktu ke masa lampau. Marilah kita mulai merubah diri sendiri, dari sekarang tanpa menunda-nunda lagi, menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan menjadi orang yang memiliki integritas antara pikiran, ucapan, dan perbuatan yang dilakukan, tanpa berharap apalagi memaksa orang lain untuk berubah menurut apa yang kita inginkan dan kehendaki.

Jika masing-masing orang bisa menjaga dirinya sendiri-sendiri bukankah pada akhirnya keseluruhan akan jadi terjaga ? Jangan lupa sewaktu kita menunjuk orang lain, hanya satu jari yang mengarah ke luar diri sedangkan tiga jari lainnya mengarah ke diri sendiri. Contoh melalui perbuatan nyata akan ’berbicara’ jauh lebih banyak, kuat, dan bertahan lama dibanding hanya berbicara melalui ucapan di mulut saja.

Jangan berpikir mengubah keluarga, orang lain, dan lingkungan sebelum kita memastikan bahwa kita telah mengubah diri sendiri dan menjadi contoh yang baik dengan mempraktekkan hal-hal baik dan menghindari hal-hal yang tidak baik terlebih dahulu.

Selamat menjadi ’manusia baru’ mulai dari sekarang sehingga bisa terhindar dari sesal di usia senja !.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: