mindset aja ga cukup

Pernahkah Anda mengalami kejadian seperti ini?

 

Sekeluar dari ruangan pelatihan motivasi, ‘cuci otak’ kasarannya, Anda merasa BOOM, DAHSYAT! Pokoknya tidak ada yang mengalahkan Anda. Selama sebulan, ngomongnya mindseeet terus. Istri sakitpun kita omongin, “Itu cuman masalah mindset!” Karyawan tidak mencapai TARGET, “Mindsetmu tuh, yang gak beres!” Pokoknya semua gara-gara mindset deh! Salahkah? Tidak!! Tidak semua maksud saya. Memang keterpurukan kondisi bangsa ini, kebanyakan masalah mental atau biasa disebut attitude .

 

Kita harus bersyukur dengan datangnya perusahaan-perusahaan direct selling atau MLM yang banyak berperan men”cuci otak” mental bangsa ini yang sudah berkarat. Hanya saja pada saat mereka menghadapi situasi yang serba kompetitif seperti sekarang ini, Mindset aja, gak cukup, Om! Mungkin hal itu masih berlaku untuk penjualan langsung yang mendidik mental order seeker atau pengejar order aja. Biasanya minta waktu terus untuk ketemu. Begitu ketemu, pokoknya harus beli, kalo gak, nyesel! Tujuannya bisnis jangka pendek, asal laku aja, pembeli kapok, bukan membangun branding. Pada saat strategi “Mindset doang” diterapkan di dunia bisnis retail konvensional, mulai kelimpungan. Kok penjualan gak naik-naik ya?! Semisal, ada sekelompok kawan yang ‘drop out’ dari perusahaan tour & travel, berencana membuka bisnis yang sama, seperti bosnya buka. Seperti biasa, langkah awal adalah memilih nama, membuat kartu nama, stiker, banner, dan seterusnya. Nama pun asal mereka suka, bukan calon customer suka. Seminggu buka, masih sepi, sebulan berlalu, ada 1 orang datang, tapi minta sumbangan. Sementara arus kas mulai menipis untuk membiayai gaji, transportasi, listrik, air, iklan dan sewa. Trus mereka berfikir, ah ini masalah waktu aja, yang penting konsisten, katanya. Apa yang salah dari mereka?

 

Strategi Sukses

 

“Iya, kok sama ya dengan yang saya alami”, mungkin Anda berkata demikian. Hal seperti diatas sering terjadi di lapangan sebagai seorang pengusaha. Tapi tak sedikit juga yang sukses melewatinya. Ternyata, sukses ataupun kegagalan itu berpola. Orang gagal, jika terus melakukan strategi atau pola yang sama, maka dia akan terus mengalami kegagalan. Seperti main video game, kita harus menemukan kunci/ strategi untuk melewati suatu rintangan. Setelah itu, strategi tersebut tak dapat dipakai lagi di level rintangan yang lebih tinggi. Dibutuhkan strategi yang berbeda sesuai dengan level rintangannya.

 

Ada 3 faktor dalam penyusunan strategi:

 

1. Where will you go? Kemana tujuan atau target Anda. Brapa besar? Target BEP 5 tahun, akan beda dengan BEP 1 tahun, apalagi 6 bulan.

 

2. Where are you now? Dimana Anda sekarang? Analisa kondisi Anda dan kompetitor di sekitar Anda. Apa yang Anda miliki? Modal 1 juta akan lain jadinya dengan modal 100 juta.

 

3. How will you get there? Bagaimana cara mencapainya? Langkah-langkah apa yang akan Anda lakukan untuk mencapai target Anda?

 

Setelah Strategi dibuat, tinggal dijalankan, jangan hanya planning aja, tapi No Action .

 

Bagaimana jika strategi yang Anda buat tidak berhasil? Setelah Target ditetapkan, strategi dibuat kemudian dilaksanakan. Hasilnya? Ternyata tidak seperti yang diharapkan. Sukses? Tidak! Ada 3 macam orang mensikapi kegagalan dari strategi yang dibuatnya sendiri.

 

Kelompok pertama, mencari kambing hitam dari kegagalan.

 

Kelompok ini adalah kelompok mayoritas. Saat gagal, orang berdalih menyalahkan kawannya yang tidak tepat janji, ditipulah, pemerintah yang membuat peraturan seenaknya, atau mungkin gara-gara banjir atau menyalahkan Tuhan. Ada juga yang menyalahkan pesaing yang buka di sampingnya. Saya bahkan pernah bilang, “Kalo gak mau ada saingan, buka aja di tengah kuburan, dijamin sepi!” Apa yang didapat dari menyalahkan orang lain? “Pembenaran Nurani” karena dirinya selamat dari rasa bersalah. Celakanya, semua alasan itu membuatnya berhenti sampai disitu, “kapok” alias “trauma” usaha lagi.

 

Nah, akhirnya balik kerja, seumur hidup jadi pecundang, karena tidak bisa membuktikan bahwa dirinya pantas jadi pemenang. Dan biasanya, kemanapun dia pergi, siapapun ditemuinya, ceritanya selalu sama, “tuh, gara-gara dia, aku bangkrut usaha …” Usaha lagi? Trauma ah!

 

Kelompok kedua, mengulangi kesalahan yang sama dengan menerapkan strategi yang sama, biasanya dengan dalih,”Ah, ini hanya masalah waktu aja, mungkin hanya kurang konsisten aja. Wong kakek moyang kita dulu usaha dengan cara ini juga sukses”. Biasanya, ciri-ciri orang kedua ini dapat dilihat dari fisik usahanya. Tokonya ber-interior ala kadarnya, dari dulu sampai sekarang. Spanduk lama yang masih terpajang. Jumlah toko/usahanya tetap aja satu, gak nambah-nambah.

 

Kelompok ketiga, yaitu kelompok yang menganalisa, kenapa targetnya tidak tercapai sesuai jadwalnya? Apa yang salah dengan strateginya? (bukan menyalahkan keadaan/ orang lain). Kemudian mengubah strateginya sampai targetnya tercapai.

 

Jaman sudah berubah! Sekarang jamannya Star Wars bukan Jaman “sepur lempung” lagi. Peta bisnis sudah banyak berubah. Orang tidak membeli barangnya saja, tapi juga karena ‘lifestyle ‘, suasana belanja yang nyaman, kepastian harga murah, tanpa harus menawar. Bahkan banyak usaha yang tidak berfikir untung (margin) lagi, yang penting omset besar. Karena keuntungan diperoleh dari propertinya. Kalau kita masih menggunakan strategi yang lama, ya sudah kuno. Jika dulu inovasi di bidang teknologi, sekarang bergeser ke ‘ design ‘ yang unik dan menarik. Nah, bagi Anda yang merasa bisnisnya mentok, coba analisa strategi Anda lagi. Mungkin saatnya mengubah strategi. Bahkan strategi tersebut harus sering berubah dan nyleneh, agar tidak mudah ditebak lawan.

 

Tapi yang perlu diingat bahwa jaman boleh berubah, tapi nilai-nilai ( value ) harus tetap dipertahankan. Bukan menghalalkan segala cara. Masih banyak opportunity di sekitar kita, tinggal kreativitas, imajinasi kita layangkan. Dan semua itu hanya akan bisa terbuka jalannya, jika kita punya keyakinan ( believe ) yang kuat akan kesuksesan kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: