sleeping with enemy

SLEEPING WITH THE ENEMIES

Pernah seorang kawan secara spontan berucap dengan bangga,”Toko buahku itu satu-satunya di komplekku, kanan kiriku semuanya toko bangunan”. Apa pendapat Anda tentang tokonya, bakal laris atau sepi? Bisa jadi sih laris manis jikalau tak ada pasar buah disekitarnya. Tapi bagaimana seandainya didekat tokonya terdapat pasar buah? Kemana orang lebih cenderung membeli? Di pasar buah atau di toko buah yang diapit oleh toko bangunan? Jangan-jangan pas mau beli salak, pembelinya ragu-ragu,”ini salak atau granat”,he he.

Menciptakan Kompetitor

Dalam sebuah sarasehan bersama penduduk di suatu desa, saya diundang untuk memberikan sentuhan kewirausahaan. Apa yang saya sarankan kepada desa itu, justru membuat satu produk unggulan “bersama-sama” alias satu desa membuat produk yang sama. Contohnya, mereka bisa memproduksi segala macam kripik dan krupuk. Kemudian saya juga menyarankan mereka menjual secara bersamaan di tempat yang berdekatan. Mungkin sepertinya ini ide gila, tapi sudah terbukti berhasil di daerah lain. Saat saya bepergian ke Jogja, saya berkali-kali ditawarkan oleh tukang becak,”Bakpia Patok mas, pulang pergi 5000”. Tadinya saya pikir mereka jualan bakpia patok, nggak tahunya mereka menawarkan jasa pengantaran ke penjual bakpia patok. Sesampai disana, ada puluhan kios penjual bakpia patok, yang semuanya ramai pembeli. Selain Bakpia, terdapat juga daerah yang bernama kasongan, yang spesialis membuat gerabah. Atau juga Kotagede yang terkenal dengan sentra industri perak, yang menjadi daya tarik wisatawan, bahkan dari manca negara.

Di jalan Pandanaran kota Semarang , ada juga sederetan toko penjaja oleh-oleh khas Semarang , terutama Bandeng Presto dan Wingko Babat. Justru berjejernya mereka dengan para kompetitor, membuat daya tarik bagi wisatawan yang melewati daerah tersebut. ” Ada apa sih itu kok tulisannya Bandeng Presto semua?”. Fenomena penciptaan kompetitor juga bisa dilakukan secara intern atau dengan satu merek, banyak penjual. Hal ini dilakukan oleh Brownis Amanda di Bandung. Bukannya gerobak penjual Amanda menjual di tempat yang berbeda-beda, malahan mereka menjual di tempat yang berhimpitan dan berderetan. Spontan hal penghijauan mereka dengan spanduk Amanda-nya, membuat mata kita melirik saat melewati jalan tersebut.

Banyak orang bangga tidak memiliki kompetitor, padahal dalam banyak hal kompetitor sangat membantu kita. Pertama, kompetitor membantu kita dalam proses edukasi pasar, khususnya jika produk/jasa kita masih terhitung baru di daerah tersebut. Kedua, dengan adanya kompetitor yang berhimpitan, menciptakan daya tarik pengunjung, setidaknya memberikan pilihan lebih bagi pembeli. Ketiga, membuat kita berfikir lebih kreatif untuk menghadapi persaingan.

Kembali ke ide yang saya lontarkan tentang pembuatan sentra pembuatan kripik, sepertinya remeh, tapi omsetnya bisa menakutkan. Namun jangan lupa, harus bekerja sama dengan agen-agen travel untuk membuat turis mampir ke desa kripik itu. Siapa tahu (dan saya yakin), ada turis Singapore atau Jepang yang kecantol untuk meng-import kripik singkong dari Indonesia. Kenapa tidak? Bukankah biaya produksinya dipastikan lebih murah di Indonesia dibandingkan negara mereka? Siapa berani mencoba?

”Seperti peluru di medan perang, rejeki kita tidak akan meleset ke orang lain”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: