Chosing to be Lonely?

Oleh: Hingdranata Nikolay

 

Dari abad pertengahan, dari legenda King Arthur yang terkenal itu, ada kisah suatu hari Arthur bertanya kepada Merlin, sang Empu, tentang masalah kesepian.

Arthur bertanya terutama karena mereka berdua hidup di kesunyian dan jauh dari siapapun.

Jawaban Merlin sangat menarik, dan thought provoking.

Merlin mengatakan bahwa rata-rata manusia tidak seharusnya kesepian, karena di dalam diri mereka begitu banyak kepribadian yang secara bergantian berusaha menduduki pikiran mereka.

Setiap saat di dalam diri berkecamuk pertikaian antara pribadi yang satu dan lainnya untuk muncul ke permukaan.

Merlin juga mengatakan bahwa hanya dengan mencapai taraf ke-Empu-an, saat seseorang menjadi satu, jiwa dan raga, kesepian baru mungkin terjadi.  Sebab hanya ada satu kepribadian.

Betul dalam diri kita banyak terjadi pergolakan antara berbagai kepentingan dan peran.

Seolah ada beberapa orang berada dalam diri kita.

Kita adalah anak, kita adalah Bapak/Ibu, kita adalah suami/istri, paman, bibi, teman, murid, guru, karyawan, bos, dll.

Setiap saat peran yang berbeda bisa mengambil alih.

Bahkan kita bisa bersikap sebagai teman ke pasangan hidup, atau bersikap sebagai orang tua ke pasangan hidup.

Ada juga yang bersikap sebagai teman ke anak-anak.

Lalu di peran yang muncul pun, meminjam istilah dari transactional analysis, kita masih bisa lagi bermain peran sebagai child, parent, atau adult. 

Di NLP sendiri, peran juga dibagi ke dalam Dreamer, Realist, dan Critics.  Atau bisa dari berbagai posisi perceptual.

Kalau meminjam ungkapan lama, ‘Dunia ini panggung sandiwara’ atau ‘the world is a stage’, setiap saat kita berperan sebagai sesuatu dalam komunitas dan berkontribusi terhadap sebuah system yang lebih besar.  Uniknya, ada yang merasa bisa MEMILIH peran, ada yang merasa perannya sudah DIPILIHKAN dan dia tidak punya PILIHAN.

Coba pikirkan, saat kita MEMILIH memainkan peran sebagai single and looking, dimana sadar bahwa kita ‘tanpa pasangan’, plus sebagai child, yang ingin ‘mempunyai shoulder to cry on’, plus sebagai bagian dari gang yang anggotanya sudah punya pasangan semua, plus sebagai anak yang selalu resah setiap kali ditegur orang tua mengenai ‘jam biologis’ kita, plus sebagai critics, yang men-judge bahwa diri kita tidak kunjung berhasil mendapatkan pasangan, bukankah kita menemui REALITA yang SANGAT KESEPIAN?

Lalu coba pikirkan, saat kita MEMILIH peran sebagai single and enjoy life, dimana sadar bahwa kita bisa menikmati hidup saat masih sendiri sambil melihat kemungkinan ada yang cocok, plus sebagai adult, yang ‘merasa punya PILIHAN untuk menikmati hidup’, plus sebagai bagian dari komunitas yang satu-satunya mempunyai waktu yang belum terbatas karena hubungan, plus sebagai dreamer, yang tahu bahwa ‘there is someone there for us’, bukankah KESEPIAN bukan kata yang tepat untuk REALITA seperti itu?

Ini seperti me-REFRAME situasi kita, melihat, mendengarkan, dan merasakan dari sisi serta sudut pandang yang berbeda.

 Coba lihat, dengar, dan rasakan sekeliling kita.

Ada orang yang mempunyai pasangan, teman yang banyak, tapi tetap merasa kesepian.

Sementara ada orang yang sendirian, tapi tidak merasa kesepian.

Ada orang yang mempunyai pasangan atau teman yang banyak, dan merindukan kesendirian.

Ada orang yang sendirian, merindukan kebersamaan dengan orang lain.

 Jadi apakah situasinya ataukah PILIHAN sikap kita terhadap situasi tersebut yang menyebabkan kita kesepian?

 Mungkin Merlin benar, karena begitu banyaknya PERAN di dalam diri kita, kita seharusnya bisa MEMILIH PERAN yang lebih sesuai atau bermanfaat untuk kita, sehingga kita tetap bisa MEMILIH untuk TIDAK MERASA KESEPIAN.

Sementara it’s okay untuk MEMILIH KESEPIAN, it’s okay juga untuk MEMILIH KENIKMATAN dalam kesendirian, right?

After all, seperti yang sering kita sebutkan di milis ini, SEMUANYA TERGANTUNG dari PILIHAN KITA.

Kalau merasa KESEPIAN, itu juga adalah PILIHAN kita.

 

So, what would you prefer to be?

It’s your CHOICE, my friend!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: