EU

Problem paling utama menjadi pengusaha adalah: “Gak ada Gurunya”. Kebanyakan pengusaha berfikir, jika dia mengajar seseorang menjadi pengusaha, maka sama aja memberi makan singa. Maksudnya, suatu saat orang tersebut akan menjadi pesaingnya. Saya juga heran saat mengikuti kelas Entrepreneur University (EU). Kalo dihitung-hitung, kok mau-maunya ya mereka yang penghasilannya sudah besar mengajar hampir tidak ada untungnya. Bahkan percaya atau tidak, Pak Purdi Chandra, pendiri EU, pergi ke luar Jakarta (misal:Batam) dengan pesawat Garuda ( bussiness class ), hotel presidential suite , sewa limousine , semuanya dengan biaya sendiri. Semua itu karena visi yang sama dari para mentor untuk menciptakan sebanyak mungkin pengusaha. Karena dengan bertambahnya orang yang membuka usaha, akan mengurangi angka pengangguran.

 

Kenapa EU? Karena pengajar atau biasanya disebut sebagai ‘mentor’ di EU haruslah seorang pengusaha bukan sekedar teori saja. Data berbicara 90% pengusaha pemula, gagal menjadi pengusaha sebelum 2 tahun. Karena mereka melakukan proses ‘ Trial & Error ‘. Celakanya, banyakkan error nya dibanding benernya. Seperti halnya jika anda mendaki gunung, sedangkan belum ada di tim anda yang pernah mendaki sebelumnya, apa yang terjadi? Prosesnya akan lebih lama, karena trial error tadi. Bagaimana cara mempercepat pendakian sampai ke puncak? Anda bisa membeli peta jalan yang benar dan singkat. Cara kedua yang lebih cepat dan akurat adalah mengajak seorang pemandu yang bisa menunjukkan jalan lebih ringkas dan aman sampai ke puncak.

 

Bagi anda penggemar musik, pasti pernah dengar namanya PURWACARAKA, sekolah musik yang didirikan oleh seorang musisi bernama Purwacaraka. Tahun 2002 yang lalu, sekolah musik pak Purwa hanya 2 tempat saja, sekarang sudah mencapai 50 cabang yang dikelola oleh franchisee. Ada seseorang yang sangat berperan dalam mengembangkan sekolah musik tersebut, namanya Koma Untoro. Koma adalah seorang manager di bursa efek dan sama sekali bukan musisi. Koma bergabung ke EU tahun 2002. Singkat kata, karena tidak memiliki ide usaha, dia dipertemukan Suhu Purdi dengan Pak Purwa. Pak Purdi sebagai suhu entrepreneur sadar bahwa tidak ada cara yang lebih cepat belajar usaha kecuali praktek. Pak Purdi telah “menjerumuskan” Pak Koma untuk mem’ franchise ‘kan sekolah Pak Purwa. Dengan mentoring yang diberikan oleh Pak Purdi dan tentu juga karena kegigihan Pak Koma, sekolah musik Purwacaraka dalam waktu hanya 2,5 tahun menjadi 50 cabang di Indonesia. Kini Pak Koma adalah salah satu dari mentor EU.

 

Dengan sistem ‘mentoring’, kita dapat mengurangi faktor kegagalan berusaha. Meskipun namanya pakai University, bukan berarti ‘sekolah yang seram’ dengan teori-teori yang membosankan. EU tanpa gelar, tanpa ijazah, tanpa kurikulum, diwisuda setelah jadi pengusaha. Nah, kalo ada jalan pintas, ngapain buat jalan sendiri?! Kalo ada ‘Guru’ pengusaha, ngapain coba-coba?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: