ULET

Many of life’s failures are men who did not realize how close they were to success when they gave up!

Screenshot from 2017-06-12 14:17:58

Bagaimana cara agar kita bisa ulet?
Apakah karena faktor lahir, bakat atau genetik?
Apakah Keuletan datang sendirinya atau melalui perjuangan?

Ternyata ULET hadir karena KARAKTER

Karakter datang dari Pikiran
Pikiran adalah ASET LUAR BIASA yang TUHAN berikan kepada kita
Kita tabur pikiran maka kita menuai Tindakan (ACTION)
Kita tabur tindakan maka kita menuai Kebiasaan (HABIT)
Kita tabur kebiasaan maka kita menuai KARAKTER (Character)

 

Advertisements

Memperlihatkan Penghargaan pada Karyawan

 

Seorang bos atau atasan sejatinya tidak memerlukan alasan khusus untuk memperlihatkan penghargaan kepada karyawannya. Demikian juga dengan seorang karyawan kepada sesama rekan sekerjanya. Penghargaan bisa diberikan setiap saat sepanjang tahun. Kejutan kecil, atau pujian merupakan bagian dari bentuk-bentuk penghargaan yang bisa menyemangati hari-hari kerja. Berikut 10 cara untuk memperlihatkan penghargaan dan rasa terimakasih kepada karyawan maupun teman sekantor.

1. Sampaikan pujian kepada karyawan atau teman sekerja untuk setiap pekerjaan yang telah berhasil mereka selesaikan. Pilih ungkapan atau sikap yang secara khusus menunjukkan perasaan menyanjung.

2. Ucapkan ‘terima kasih’. Tunjukkan apresiasi untuk kerja keras dan kontribusi mereka. Dan, jangan lupa untuk mengucapkan “tolong” sesering mungkin. Lingkungan kerja yang penuh suasana keramahtamahan akan menyenangkan semua pihak.

3. Ajak ngobrol karyawan atau kolega tentang keluarga mereka, hobi yang mereka tekuni, acara akhir pekan atau acara-acara khusus yang mereka hadiri. Sikap ketertatikan yang Anda tunjukkan membuat orang merasa dihargai dan dipedulikan.

4. Berikan kemudahan bagi staf Anda untuk menjadwalkan liburan (cuti).

5. Kenali kesukaan rekan sekerja untuk memberi hadiah di hari-hari tertentu, seperti hari ulang tahun. Pemberian yang tulus dan ekspresi Anda ketika memberikannya akan menjadi hari bahagia rekan sekerja Anda lebih bermakna.

6. Bagi para bos, sesekali bila memungkinkan, memberi dalam bentuk uang kepada karyawan akan sangat membantu. Misalnya, sebagai bonus akhir tahun atau bonus kehadiran.

7. Setiap orang menyukai kegiatan yang berkaitan dengan “makan-makan”. Ajaklah kolega atau staf makan siang bersama pada momen-momen tertentu, atau bisa juga dilakukan tanpa alasan khusus apapun.

8. Bikin perayaan khusus kecil-kecilan yang meriah pada hari-hari libur nasional tertentu. Misalnya, mengelar aneka macam lomba pada hari kemerdekaan.

9. Bawa kue, donat, cokelat atau makanan kecil ke kantor. Lebih menyenangkan kalau Anda bisa mengatakan bahwa kue yang Anda bawa adalah buatan tangan Anda sendiri.

10. Sediakan kesempatan. Setiap orang ingin bertambah pengetahuan dan keterampilannya dan berubah posisinya. Berikan pelatihan. Libatkan staf dalam komite khusus yang ada di perusahaan. Kesempatan untuk menghadari pertemuan-pertemuan asosiasi profesional dan seminar sangat berharga untuk menambah pengalaman seseorang.

Sepuluh cara di atas hanyalah rangsangan ide tentang cara-cara memperlihatkan penghargaan kepada karyawan dan kolega. Kembangan sendiri ijaminasi Anda untuk menemukan bentuk-bentuk penghargaan yang lain. Tak ada rumus atau aturan baku dalam hal ini. Ada ratusan cara lain yang bisa Anda temukan untuk mensukseskan usaha-usaha membangun lingkungan kerja yang nyaman dan produktif.

 

Mempertahankan Karyawan Terbaik

 

Mempertahankan karyawan yang menduduki posisi kunci merupakan kebutuhan untuk kesehatan dan kesuksesan bisnis Anda jangka panjang. Semua manajer pasti sepakat bahwa mempertahankan karyawan-karyawan terbaik Anda pada gilirannya akan memberi kepastian bagi kepuasan pelanggan, penjualan produk, memuaskan staf level bawah dan mengefektifkan rencana menuju sukses. Jika para manajer telah menghafal fakta-fakta itu di luar kepala, mengapa banyak di antara mereka memiliki kelakuan yang membuat karyawan-karyawan bagus tidak betah dan pergi meninggalkan perusahaan?

Mempertahankan karyawan memang selalu menjadi isu penting dalam sebuah perusahaan.Gagal mempertahankan karyawan yang berkualitas akan meminta ongkos yang mahal. Membuat karyawan betah dan nyaman di posisinya merupakan salah satu ukuran utama untuk melihat kesehatan organisasi Anda.

Para pemikir masalah manajemen umumnya setuju bahwa karyawan yang baik tahu benar apa yang bisa diharapkan dari dia setiap hari di tempat kerja. Mengubah ekspektasi akan membuat orang merasa dipinggirkan dan menciptakan kondisi stres yang tidak sehat. Mereka merampas keamanan internal karyawan tersebut dan membuatnya merasa gagal.

Kualitas pengawasan menentukan kenyamanan karyawan. Orang lebih sering meninggalkan manajernya atau supervisornya ketimbang meninggalkan perusahaan atau pekerjaan. Seorang supervisor tidak cukup hanya baik dan manis saja. Mulailah dengan ekspektasi yang jelas pada karyawan, maka dengan begitu sang supervisor telah berperan dalam mempertahankan karyawan yang bersangkutan. Segala yang dilakukan supervisor yang membuat karyawan merasa tidak dihargai akan berakibat buruk.

Kesempatan mengungkapkan pikiran secara bebas dalam perusahaan adalah faktor kunci lain yang menentukan kenyamanan karyawan. Apakah perusahaan mengumpulkan ide-ide dan menyediakan lingkungan yang mendukung bagi orang untuk melakukan feedback? .

Pemanfaatan bakat dan keahlian adalah faktor lingkungan lain yang membuat karyawan terbaik Anda bertahan di perusahaan Anda. Karyawan yang termotivasi ingin menyumbangkan pengetahuan dan kemampuannya untuk hal-hal di luar wilayah spesifik job des-nya. Anda hanya perlu tahu keahlian-keahlian, bakat dan pengalaman mereka.

Pada akhirnya, karyawan terbaik Anda, yakni mereka yang ingin Anda pertahankan, terus-menerus mencari kesempatan untuk belajar dan tumbuh dalam karier, pengetahuan dan keahlian. Tanpa peluang untuk mencoba kesempatan-kesempatan baru, duduk di komite yang menantang, menghadiri seminar dan mendiskusikan buku-buku, mereka akan merasa mandek.

 

Menciptakan Tempat Kerja yang Lebih Baik (2)

 

Pengusaha dan karyawan harus bekerja sama untuk menghasilkan kerja yang efisien dan produktif. Kedengarannya begitu sederhana, karena memang begitulah seharusnya. Tapi, hubungan harmonis yang ideal seperti itu bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan harus diupayakan. Berikut tips bagi pihak karyawan untuk membantu menciptakan tempat kerja yang lebih baik.

1. Meminta feedback dan klarifikasi.

Jika Anda merasa tidak yakin apakah Anda telah mengerjakan dengan baik suatu proyek, jangan biarkan kegelisahan memperburuk tingkah laku Anda. Jadikan itu sebagai dorongan untuk proaktif meminta feedback untuk memastikan Anda menentukan langkah selanjutnya. Para manajer biasanya sibuk dan tidak menyadari mereka telah lupa menilai pekerjaan Anda. Dengan kata lain, mereka tidak selalu mengambil inisiatif dalam memberi Andafeedback. Usahakan tetap menjaga jalur komunikasi.

2. Waspadai yang sedang terjadi.

Jika perusahaan tampak sedang membuat sejumlah perubahan besar yang kemungkinan tidak melibatkan Anda, jangan diam berpangku tangan. Ketahui betul situasinya dan buatlah keputusan, apakah Anda akan menunggu atau mencari posisi baru. Restrukturisasi mungkin memang suatu keharusan, tapi tidak harus menjadi mesin yang menentukan takdir Anda di tempat kerja.

3. Selalu membuat bos senang, ketika Anda bisa.

Tak ada yang suka dengan penjilat, tapi ada cara untuk senantiasa membuat supervisor Anda senang, yang harus dipelajari dan dipraktekkan untuk mendapatkan kepuasan dalam karir dan pekerjaan. Menjadi pribadi yang menyenangkan, suka menolong dan mudah bekerja sama sangat membantu Anda di tempat kerja. Ada saat tertentu ketika bos tidak senang atau marah. Jika Anda tidak bisa bertoleransi dengan situasi buruk semacam itu, Anda akan menemui kesulitan.

4. Memanfaatkan momen evaluasi.

Evaluasi pada dasarnya merupakan sesi temu-langsung dengan supervisor berkaitan dengan kinerja terbaru Anda. Jika review yang Anda terima berisi komentar-komentar negatif yang membuat Anda merasa bersalah, jadikanlah petunjuk untuk memperbaiki diri sehingga review berikutnya lebih positif. Jika Anda tidak setuju (dengan penilaian itu), ungkapkan dengan baik. Atau, karena evaluasi datang setahun sekali, mengapa tidak membuat langkah antisipasi?

5. Percayai insting Anda

Sebagian orang memiliki insting-insting yang baik, tapi kadang-kadang orang menolak insting mereka sendiri –biasanya karena kenyataan yang sulit diterima. Jika Anda merasakan keraguan pada pekerjaan, Anda bisa meninggalkannya, atau mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk menemukan pekerjaan lain. Lebih baik keluar (dari pekerjaan) atas kemauan sendiri daripada ada sesuatu yang memaksa Anda melakukannya.

 

Mendongkrak Nilai dengan Ide

 

“Ada ide?” ujar seorang bos kepada anak buahnya dalam sebuah rapat. Sejenak ruangan senyap. Ada yang menunduk, ada yang saling pandang. Hingga akhirnya, seperti tampak pada sebuah tayangan iklan produk vitamin, seorang karyawan dengan mantap dan penuh percaya diri bangkit dari duduknya seraya mengatakan, “Ada, Pak!”

“Ada (ide)” tentu hanyalah jawaban pertama. Selanjutnya, bagaimana cara yang baik untuk menyampaikan ide tersebut, agar apa yang telah tersusun di benak kita dipahami oleh orang lain, terutama dalam hal ini, bos kita?

Kita tentu tidak mau, hanya karena salah menyampaikan, ide kita terdengar acak-adul sehingga bukannya menambah poin plus kita di mata bos dan teman-teman sekantor. Melainkan, sebaliknya, mempermalukan kita dan ujung-ujungnya mengganggu perkembangan laju karir kita!

Menurut CEO AchieveGlobal, sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi internasional, Sharon Daniels, feedback yang insightful dan ide-ide tidak hanya meningkatkan nilai seseorang bagi organisasi, tapi juga membuka pintu bagi perkembangan karir bagi yang bersangkutan.

“Tentu saja, berdiri di depan orang yang memiliki kontrol terhadap masa depan perusahaan bukanlah sesuatu yang mudah, tapi bagi yang bisa melakukannya, imbalannya sangat berarti,” ujar Daniels.

Dalam iklim bisnis yang berubah cepat dan hiper-kompetitif, ide-ide kreatif, cemerlang dan inovatif dari karyawan maupun manajer selalu ditunggu oleh top leader. “Manajer dan karyawan yang baik adalah mereka yang mengetahui nilai yang bisa mereka berikan untuk organisasi, dan tahu cara-cara yang benar untuk menyampaikan ide-ide mereka,” tambah dia.

Daniels memberikan 6 tips untuk membantu kita bagaimana sebaiknya menyampaikan ide kepada atasan:

1. Know your role

Anda harus tahu di mana posisi Anda. Perlihatkan rasa hormat dan penghargaan baik pada orang yang levelnya di bawah Anda maupun di atas. Sebaliknya, dapatkan juga sikap yang sama dari orang lain dengan cara menghargai dan mendukung ide mereka.

2. Get results

Mantapkan kredibilitas dengan pencapaian hasil-hasil melalui kinerja Anda. Bangunlah komitmen dalam tim kerja Anda, beri rasa percaya diri pada tim Anda.

3. Manage up

Semua karyawan, manajer, supervisor harus belajar bagaimana berkomunikasi secara efektif kepada manajemen senior. Pelajari gaya bos Anda dan pastikan pendekatan seperti apa yang dia suka.

4. Provide your rationale

Pikirkan isu besarnya, siapkan diri untuk mempertahankan pemikiran Anda, tapi harus tetap fleksibel dengan masukan dan saran dari orang lain.

5. Follow the chain of command

Dalam organisasi besar dengan hierarki yang bertingkat-tingkat, sampaikan terlebih dahulu ide Anda kepada manajer/supervisor yang berada tepat di atas Anda, untuk mendapatkan masukan awal. Selebihnya, Anda bisa datang bersama manajer/supervisor tersebut untuk mendiskusikan ide Anda dengan bos.

6. Keep your eye on the goal

Ingat bahwa tujuan Anda tak lain meningkatkan kinerja organisasi, dan bukan sekedar ide Anda diterima.

Mengatasi Gangguan-gangguan “Kecil”

 

Mengabarkan berita gembira tidak hanya menyenangkan, tapi juga mudah dilakukan. Seorang manajer tak perlu mencari cara khusus untuk memuji anak buahnya yang telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Kalau Anda merasa puas bekerja sama dengan rekan sekantor dalam sebuah proyek, Anda tak perlu susah-susah merangkai kalimat untuk menyatakan kepuasan itu.

Tapi, tidak semua kabar yang perlu disampaikan merupakan berita baik. Bayangkan kalau di kantor Anda ada karyawan yang gemar memakai baju yang terlalu ketat sehingga “mengganggu pemandangan”. Atau, rekan sebelah bangku Anda tak henti-hentinya mengajak bicara tentang masalah pribadi yang penuh keluh-kesah tak menyenangkan. Juga, bagaimana jika di antara penghuni kantor ada yang menebar BB alias bau badan?

Situasi-situasi yang mengganggu seperti itu sering menciptakan keadaan yang serba salah. Menegur mereka secara langsung bukanlah hal yang mudah dilakukan, karena salah-salah bisa menyinggung perasaan. Namun, membiarkan gangguan-gangguan kecil itu begitu saja, tak urung membuat suasana kerja menjadi tidak nyaman, dan ujung-ujungnya sudah barang tentu mengganggu produktivitas.

Jadi, bagaimana mengemas pemberitahuan itu secara positif sehingga bisa diterima dan tidak menyinggung perasaan yang bersangkutan?

Kolumnis masalah-masalah Manajemen Karyawan dan pakar psikologi organisasi sekaligus Presiden Javith Associates, Massachusetts David G. Javitch menyarankan; pertama, tempuh dulu jalan memutar: membicarakan isu tersebut tanpa menyentuh langsung pelakunya. Misalnya, dalam kasus karyawan yang suka berbusana “mengundang”, Anda bisa mem-posting sebuah artikel tentang –katakanlah– “dampak negatif tampil berlebihan di tempat kerja” di jaringan email kantor. Sehingga, semua karyawan bisa membacanya.

Dalam kasus karyawan yang menebar bau tak sedap, Anda bisa mengirim email ke semua orang yang isinya, “Kita punya beberapa karyawan yang menderita alergi tertentu. Mohon perhatikan penggunaan parfum atau lotion dan usahakan untuk menjaga bau badan senetral mungkin.”

Bagaimana jika langkah pertama tersebut tidak mempan? Javith menyarankan cara kedua, yakni dengan pendekatan personal secara langsung. Langkah ini bisa dimulai denganfeedback yang positif sebelum melangkah lebih jauh ke dalam komentar-komentar negatif dan meminta untuk berubah. Metode ini harus jelas dan to the point.

Sebagai contoh, misalnya di kantor Anda ada karyawan yang tak pernah siap dengan materi setiap kali meeting tim. Dan, Anda mulai merasa terganggu dengan situasi itu. Anda bisa memulai dengan pernyataan yang positif, “Saya sangat menghargai pekerjaan yang telah Anda selesaikan dalam tim ini.”

Baru, setelah itu masuk ke pernyataan yang negatif, “Pekan ini saya merasa Anda tidak siap sebagaimana biasanya.” Lalu, lanjutkan dengan pernyataan “permintaan untuk berubah”, “Saya ingin memastikan Anda benar-benar siap dengan data untuk meeting berikutnya.” Jangan lupa, tutup dengan pernyataan dukungan untuk membantu memberikan jalan keluar, “Apakah ada kesulitan? Ada yang bisa saya bantu untuk menyiapkan meeting berikutnya nanti?

Dalam situasi-situasi yang lebih sensitif –seperti yang melibatkan karyawan berbau badan tadi– pastikan untuk menekankan bahwa Anda “mempermasalahkan” hal itu semata karena rasa perhatian. Mulailah dengan mengatakan bahwa Anda menyadari, kadang-kadang orang memang bermasalah dengan bau badan. Jelaskan, bahwa Anda mengatakan hal itu karena ingin membantu mencarikan solusi dan sekaligus membantu kelanjutan karir dia. Tanyakan, apakah segalanya baik-baik saja dan apakah ada yang perlu dibantu.

Memberi saran konkret untuk berubah diharapkan menjadi cara yang efektif untuk membuat orang yang bersangkuran –sumber gangguan-gangguan kecil itu– berpikir dan mulai mengambil langkah untuk berubah dari situasi negatif ke positif. Dalam beberapa situasi tertentu, memang hampir mustalil untuk mengindari menyinggung perasaan orang. Tapi, sekali Anda berhasil membuat orang menyadari bahwa ada yang tidak beres pada dirinya dan itu menganggu orang-orang di sekitarnya, orang tersebut akan menghargai dan respek dengan kepedulian, kejujuran dan cara Anda.

 

Mengelola Emosi di Tempat Kerja

 

Barangkali gambaran sosok seperti ini cukup akrab bagi Anda: rekan kerja yang tak pernah punya kata-kata yang menyenangkan, baik itu dalam rapat intern rutin mingguan maupun dalam obrolan makan siang di kantin. Orang-orang seperti ini biasanya menyita energi pada sesi brainstorming karena komentar-komentarnya yang “nggak penting”. Kecenderungan mereka yang mudah “bete” juga mengganggu. Pendek kata, negativitas mereka bisa mengkontaminasi kehidupan kantor.

Seperti ditegaskan oleh Profesor Manajemen dari Sekolah Wharton Sigal Barsade yang mempelajari pengaruh emosi-emosi di tempat kerja, emosi itu menular. “Berbagai emosi menjalar dari satu orang ke orang lain seperti virus,” kata dia.

Barsade ikut dalam tim penulis paper “Why Does Affect Matter in Organizations?” Dalam studi perilaku organisasional, “affect” merupakan kata lain dari “emotion”. Dan, jawaban atas pertanyaan yang tersurat dari judul paper itu: mood, emosi dan semua sikap dari karyawan memiliki pengaruh terhadap kinerja, pengambilan keputusan, kreativitas, turnover, tim kerja, negosiasi dan kepemimpinan.

“Semua orang membawa emosi-emosi mereka ke tempat kerja,” ujar Barsade. “Anda membawa otak Anda ke kantor. Anda juga membawa emosi-emosi Anda ketika bekerja. Berbagai perasaan itu menggerakkan kinerja.”

Dalam paper tersebut, Barsade dan timnya merinci adanya tiga tipe perasaan yang berbeda:

1. Discrete, alias emosi-emosi sesaat, seperti senang, marah, takut dan muak

2. Mood, yakni perasaan-perasaan jangka panjang dan tidak berkaitan dengan penyebab khusus, misalnya seseorang yang periang, atau minder.

3. Dispositional, atau sifat-sifat personal yang melekat pada seseorang yang ‘mendefinisikan’ yang bersangkutan secara keseluruhan. Kita sering mendengar orang berkomentar, “Dia selalu gembira”, atau, “Dia selalu berprasangka buruk.”

Menurut Barsade, beberapa orang memang memiliki kontrol yang lebih baik terhadap emosinya dibandingkan yang lain. Namun, tidak berarti bahwa orang-orang di sekitarnya tidak terpengaruh oleh mood mereka.

“Anda mungkin tidak menyadari bahwa Anda sedang memperlihatkan emosi Anda, tapi itu tercermin dari ekspresi wajah atau bahasa tubuh Anda. Emosi-emosi yang tidak kita sadari itu bisa mempengaruhi pemikiran dan perilaku kita,” ujar dia.

Kepada para manajer Barsade menyarankan agar menstrasfer emosi yang positif, misalnya dengan mengatakan, “Aku tahu kau khawatir. Segala sesuatunya tidak tampak baik, tapi kau tahu kita punya cara untuk mengatasinya dan kita bisa menyelesaikannya bersama-sama.”

Karyawan akan mengapresiasi kejujuran seperti itu dan bisa mendapatkan rasa nyaman untuk bersikap optimis.

Data yang Berharga

Kecerdasan Emosional –frasa yang makin akrab dalam khasanah psikologi dan pendidikan– kini mulai banyak dibicarakan juga dalam lingkaran bisnis. Sekolah-sekolah bisnis kini getol mengajari para eksekutif untuk menjadi cerdas secara emosional dan bagaimana mengelola emosi-emosi karyawan mereka.

“Ide di balik kecerdasan emosional di tempat kerja tak lain keyakinan akan adanya skill untuk memperlakukan emosi karyawan sebagai data berharga dalam mengarahkan situasi,” jelas Barsade seraya menegaskan bahwa menurut riset, orang-orang yang memiliki emosi positif cenderung tampil lebih baik di tempat kerja.

Dikatakan, orang-orang yang positif secara kognitif berproses lebih efektif. Ketika berada dalam mood positif, orang akan lebih terbuka untuk menyerap informasi dan meng-handle-nya secara efektif. Kita tidak perlu mengubah rekan-rekan sekantor yang negatif, tapi cukup dengan menolak untuk “menangkap” mood negatif mereka.

Kita bisa mulai dari diri kita masing-masing, misalnya, sebelum menghadiri rapat bertekad untuk tidak melayani orang-orang yang tak pernah punya ide, tapi selalu menganggap ide orang lain buruk.